Gelar Bukan Jaminan, Karya Adalah Bukti Kisah Penulis Tamatan SMA yang Tetap Menulis Meski Hidup Tak Selalu Ramah
![]() |
| Iswanto, Kontributor Media gudang-warta.com Biro Kabupaten Lamongan. |
Penulis : Iswanto
LAMONGAN - gudang-warta.com - Ada kenyataan yang tak bisa kita pungkiri: di dunia ini, seringkali orang menilai seseorang bukan dari apa yang ia mampu berikan, melainkan dari selembar kertas ijazah yang ia genggam. Tingkat pendidikan menjadi ukuran pertama, kadang satu-satunya, yang dipakai untuk menempatkan seseorang pada posisi tertentu. Padahal, di balik kertas itu, ada jiwa yang berjuang, ada pikiran yang tajam, dan ada hati yang tak lelah berkarya — meski hidup tak selalu berjalan mulus.
Seperti halnya Iswanto, warga Dusun Dermo, Desa Dermolemahbang, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan. Ia hanyalah tamatan Sekolah Menengah Atas. Tidak bergelar sarjana, tidak memiliki deretan gelar di belakang namanya. Ketika berhadapan dengan dunia yang menuntut kualifikasi tinggi, ia kerap merasa kecil.
Ketika kesempatan datang, seringkali ia didahului oleh mereka yang dinilai "lebih layak" hanya karena kertasnya lebih tinggi. Orang terdekat pun kadang meragukan: "Bisa apa anak ini?" Seolah-olah kemampuan seseorang tertulis di atas kertas itu, bukan di dalam kepala dan hatinya.
Namun Iswanto tidak berhenti. Setiap hari, di sela-sela kesibukan, di tengah kesulitan hidup yang datang silih berganti, ia tetap menulis. Ia menyusun berita, merangkai opini, menyampaikan kisah-kisah warga yang sering tidak didengar.
Tulisan-tulisannya hadir berimbang, adil, dan memihak kepada kebenaran — bukan kepada siapa yang berkuasa atau siapa yang kaya. Ia menulis bukan untuk dipuji, melainkan karena ia percaya: suara rakyat harus tersampaikan.
"Hidup ini memang kadang terasa tidak adil. Ada orang yang berpendidikan tinggi namun lupa caranya peduli. Ada yang memiliki akses luas namun tulisannya hanya menguntungkan diri sendiri," ungkap Iswanto, Minggu (20/9/2026).
Sementara Iswanto, dengan segala keterbatasan, tetap hadir — setiap hari, tanpa kenal lelah — menghasilkan karya yang dibaca, dirasakan, dan bermanfaat bagi banyak orang.
"Benar, kadang kita membutuhkan bantuan orang lain untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Dukungan orang terdekat, kepercayaan dari lingkungan, kesempatan yang diberikan oleh mereka yang lebih berpengaruh — semua itu bisa menjadi jembatan. Namun jangan lupa: kesempatan hanya berarti jika ada kemampuan yang siap menyambutnya. Dan kemampuan itu tidak lahir dari kertas ijazah semata; ia lahir dari ketekunan, dari jam-jam panjang yang dihabiskan untuk belajar, dari kegagalan yang dijadikan pelajaran, dan dari niat tulus untuk bermanfaat," jelasnya.
Menurut Iswanto, janganlah menilai seseorang hanya dari sekolah terakhir yang ia tempuh. Lihatlah apa yang ia hasilkan setiap harinya. Lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang lain. Lihatlah keteguhan hatinya meski hidup sulit. Itulah nilai yang sesungguhnya — yang tidak bisa dibeli dengan uang maupun ditulis di atas ijazah mana pun.
Iswanto hanyalah satu dari sekian banyak bukti: bahwa bakat tidak selalu lahir dari kemewahan pendidikan, dan keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh latar belakang. Yang menentukan adalah keteguhan untuk terus melangkah, untuk terus berkarya, dan untuk tetap jujur pada diri sendiri — apa pun yang dikatakan orang.
"Maka biarlah selembar kertas itu menjadi milik mereka yang memilikinya. Yang penting bagi kita adalah apa yang kita tinggalkan: tulisan yang bermanfaat, perbuatan yang jujur, dan jejak kebaikan yang tak terhapus waktu. Itulah gelar yang paling abadi," tandasnya.
(Iswanto/GW/Red)

