Ortu Pelari Cilik Ponorogo Kritik Profesionalisme Panitia Penyelenggara Merdeka Run 2026
![]() |
| Merdeka Run Ponorogo 2026 yang dihelat di kawasan Monumen Reog Sampung Ponorogo. |
Namun, Peserta cilik AR dinyatakan tidak memenuhi persyaratan administratif kategori oleh panitia setelah mencapai garis finis dan sempat diumumkan sebagai juara dua.
Panitia juga menyebut AR tidak memenuhi ketentuan yang telah dipublikasikan melalui Instagram resmi Merdeka RUN 2026, yakni terkait kewajiban membawa Handphone/GPS dan Personal Aid Kit.
“Peserta tidak memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan, walaupun peserta mendapat potensial 2. Sebab peserta kurang persyaratan yaitu Handphone/GPS dan Personal Aid Kit,” terang pihak panitia.
Orang tua AR, Anang Sastro, melayangkan protes keras karena mempermasalahkan mengapa pemeriksaan administrasi atau regulasi tidak dilakukan secara ketat sejak garis start, bukan setelah anak berjuang keras menempuh rute 10K.
Anang mengaku sangat kecewa. Menurutnya, tidak ada penyampaian secara lisan yang secara tegas mengingatkan peserta dan melakukan pengecekan kelengkapan peserta sebelum start mengenai persyaratan Handphone/GPS dan Personal Aid Kit.
“Anak sudah berjuang menyelesaikan 10K. Namanya bahkan sudah diumumkan sebagai posisi kedua. Kemudian setelah itu dinyatakan tidak memenuhi syarat. Yang saya pikirkan bukan hanya soal hadiah, tetapi bagaimana kondisi mental anak,” ujar Anang.
Pihak keluarga menyesalkan keputusan tersebut karena dianggap mengguncang kesehatan mental sang anak yang telanjur bersemangat usai menyelesaikan lomba.
Menurut Anang, apabila persyaratan tersebut merupakan ketentuan mutlak yang dapat menyebabkan diskualifikasi, seharusnya pemeriksaan dilakukan sebelum peserta diperbolehkan mengikuti perlombaan.
Ia juga mempertanyakan sistem pencatatan waktu yang digunakan dalam lomba. Pada nomor peserta terdapat chip timing dengan keterangan agar tidak dilepas.
“Kalau memang peserta harus menggunakan GPS, lalu apa fungsi chip timing yang terpasang pada nomor peserta? Seharusnya sejak awal ada pemeriksaan dan penjelasan yang jelas kepada peserta,” tegasnya.
Insiden ini memicu kritik terhadap profesionalisme panitia penyelenggara dari paguyuban Pawitandirogo dan Pemkab Ponorogo karena dianggap kecolongan meloloskan peserta saat start namun menganulirnya di ujung acara.
Apakah seluruh persyaratan benar-benar telah diverifikasi sebelum start? Jika AR memang tidak memenuhi syarat, mengapa peserta tetap diperbolehkan mengikuti lomba, menyelesaikan rute 10K, dan kemudian diumumkan berada di posisi kedua.
Karena itu, keluarga berharap penyelenggara tidak hanya melihat persoalan ini dari sisi aturan lomba, tetapi juga mempertimbangkan dampak keputusan terhadap mental peserta yang masih anak-anak.
(Eko/GW/Red)

