Ketika Tanah Bercerita: Catatan Lapangan dari Kampung Gerabah Lamongan
LAMONGAN - gudang-warta.com - Perjalanan menuju Desa Gampang Sejati, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, dimulai dengan pemandangan sawah yang tenang dan deretan rumah-rumah sederhana yang menyimpan cerita panjang. Pada 24 November 2025, Tiga Dosen milenial dari Universitas Terbuka Surabaya—Sucipto, Berlina Hidayati, dan Tiara Sevi Nurmanita—mengunjungi Kampung Gerabah ini dalam rangka survei calon lokasi pengabdian masyarakat tahun 2026. Suasana hangat dan sambutan ramah warga membuat kunjungan ini terasa lebih dari sekadar tugas akademik.
Setibanya di salah satu rumah produksi, aroma tanah basah dan suara roda gerabah menjadi hal pertama yang menyambut mereka. Para dosen menyaksikan bagaimana tanah liat yang tampak biasa saja diolah oleh tangan-tangan terampil para perajin. Setiap putaran roda, setiap tekanan jari, terasa seperti dialog antara manusia dan alam—perlahan-lahan membentuk sebuah karya yang memiliki fungsi sekaligus nilai artistik.
Namun, di balik indahnya proses itu, tersimpan tantangan besar. Dalam obrolan santai dengan Mas Ahmad, salah satu pengrajin muda, muncul fakta bahwa proses penghalusan tanah masih dilakukan dengan cara manual. “Kalau pakai mesin, bisa lebih cepat dan hasilnya halus,” ucapnya sambil menunjukkan gundukan tanah yang perlu diproses panjang sebelum bisa dibentuk. Keterbatasan alat membuat produksi memakan waktu lebih lama dan energi lebih besar.
Tantangan lain yang tak kalah serius adalah regenerasi. Banyak pengrajin yang kini berusia lanjut, sementara anak-anak muda di desa lebih tertarik merantau atau bekerja di kota. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini kini berada di persimpangan jalan: dipertahankan atau perlahan tergantikan oleh arus modernisasi yang tak terbendung.
Melihat kondisi tersebut, tim Dosen UT Surabaya mulai memetakan peluang pendampingan. Mulai dari dukungan teknologi tepat guna, pelatihan pemasaran digital, hingga program berbasis edukasi bagi generasi muda. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan kerajinan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Kunjungan singkat ini meninggalkan kesan mendalam: bahwa tanah liat bukan hanya bahan baku—melainkan cerita hidup tentang kesabaran, ketekunan, dan identitas. Catatan lapangan ini bukan akhir, tetapi langkah awal menuju harapan baru bagi Kampung Gerabah Lamongan.
Wartawan :

