BREAKING NEWS

Ajaib! Program MBG Berjalan Sukses di Pulau Terpencil Paling Timur Jawa Timur

H. Makruf, Salah satu mitra dapur MBG di Sapeken, sebuah gugusan pulau terluar Kabupaten Sumenep, Madura.

 

SAPEKEN, SUMENEP – gudang-warta.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya berhasil berjalan di salah satu wilayah paling terpencil di ujung timur Provinsi Jawa Timur.


 Tepatnya di Kecamatan Sapeken, sebuah gugusan pulau terluar Kabupaten Sumenep, Madura, program MBG kini telah memiliki satu dapur mitra yang aktif beroperasi dan melayani kebutuhan makan bergizi bagi anak-anak sekolah.


Siswa Siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sapeken, Sumenep, Madura.


Sapeken dikenal sebagai wilayah kepulauan yang memiliki tingkat kesulitan logistik sangat tinggi. Jarak tempuh dari daratan utama bisa mencapai 14 jam pelayaran, itupun sangat bergantung pada kondisi cuaca. Kapal pengangkut logistik bahkan hanya datang sekali dalam seminggu, dan bisa tidak beroperasi sama sekali saat angin kencang melanda perairan.


Salah satu mitra dapur MBG di Sapeken, H. Makruf, mengungkapkan bahwa meski menghadapi berbagai keterbatasan, pihaknya tetap berupaya menyajikan menu MBG yang berkualitas dan tidak kalah dengan daerah daratan.


“Menu MBG di Sapeken ini tidak kalah dengan MBG di daratan lainnya. Padahal di sini hampir semua kebutuhan mahal, mulai dari telur ayam, sayuran, hingga bahan pokok lainnya. Harganya bisa berkali lipat dibandingkan daratan,” ujarnya.


Ia menambahkan, hampir seluruh bahan kebutuhan dapur harus didatangkan dari daratan, baik dari wilayah Banyuwangi maupun Kota Sumenep. Ketika kapal tidak beroperasi akibat cuaca buruk, bahan pokok menjadi langka bahkan tidak tersedia sama sekali.


“Belum lagi kendala kapal. Kalau angin kencang, kapal tidak ada yang datang. Padahal semua bahan dari daratan. Kondisi ini tentu sangat berat bagi kami di lapangan,” tambahnya.


Oleh karena itu, H. Makruf berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus terhadap daerah kepulauan terpencil seperti Sapeken, terutama dalam penetapan biaya per porsi MBG.


“Kalau di daerah lain per porsi Rp10 ribu, di Sapeken seharusnya bisa di atas Rp15 ribu. Ini pulau terpencil terluar, biaya hidup sangat tinggi,” tegasnya.


Sementara itu, tokoh masyarakat Sapeken sekaligus Ketua GARDASATU Jawa Timur, Badrul Aini, yang juga merupakan salah satu aspirator pembangunan dapur MBG di Sapeken, menyatakan rasa syukurnya karena program MBG dapat berjalan di wilayah kepulauan tersebut.


“Kami bersyukur bisa ikut membantu menyukseskan program Presiden Prabowo melalui MBG ini. Kami paham betul tingkat kesulitan di pulau seperti Sapeken sangat tinggi,” ujarnya.


Badrul mencontohkan, harga gas elpiji di Sapeken bisa hampir dua kali lipat dibandingkan daratan, begitu pula harga telur, ayam, dan bahan makanan lainnya. Meski demikian, ia menegaskan agar para pengelola dapur tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk menurunkan kualitas.


“Saya minta kepada para pemilik dapur di Sapeken agar jangan main-main. Gizi MBG harus tetap terjamin, kualitas harus dijaga, jangan hanya mementingkan keuntungan. Kita juga mendapatkan pahala karena bisa memberi makan anak-anak sekolah,” tegasnya.


Ia juga memastikan akan menyampaikan langsung kondisi riil di lapangan kepada para pemangku kebijakan program MBG agar ada kebijakan khusus bagi daerah kepulauan terpencil.


“Daerah pulau dengan tingkat kemahalan harga seperti Sapeken harus dibedakan dengan daerah perkotaan di daratan. Ini pulau paling timur, paling jauh, berada di tengah samudra. Harus ada perlakuan khusus,” pungkas Badrul.



(Guf/GW/Red) 


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar