ITI Kukuhkan 368 Insinyur Baru, Perkuat Peran Strategis dalam Pembangunan Nasional
![]() |
| Institut Teknologi Indonesia (ITI) selenggarakan Wisuda Program Profesi Insinyur (PPI) Tahun 2026. |
TANGERANG SELATAN - gudang-warta.com - Institut Teknologi Indonesia (ITI) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia unggul di bidang teknik melalui penyelenggaraan Wisuda Program Profesi Insinyur (PPI) Tahun 2026 yang turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia, Dr. Ir. Teguh Haryono, ST., MBA., IPU., ASEAN Eng., ACPE., APEC Eng.
Kehadiran organisasi profesi dalam prosesi ini menegaskan kuatnya sinergi antara perguruan tinggi dan asosiasi profesi dalam memastikan kualitas dan standar kompetensi insinyur di Indonesia.
![]() |
| Sebanyak 368 peserta resmi dikukuhkan sebagai insinyur, menandai kesiapan mereka untuk berkiprah secara profesional serta berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional di berbagai sektor strategis. |
Sebanyak 368 peserta resmi dikukuhkan sebagai insinyur, menandai kesiapan mereka untuk berkiprah secara profesional serta berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional di berbagai sektor strategis.
Diselenggarakan di kawasan sains dan teknologi yang dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kegiatan ini tidak sekadar menjadi seremoni akademik, melainkan representasi dari penguatan ekosistem keinsinyuran yang terintegrasi dengan riset, industri, dan kebutuhan pembangunan nasional.
Rektor ITI, Prof. Dr. Ir. Syopiansyah Jaya Putra, M.Si., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa Program Profesi Insinyur di ITI dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata dunia kerja melalui dua jalur utama, yakni Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan jalur reguler.
“Sebanyak 368 wisudawan hari ini terdiri dari para profesional berpengalaman melalui jalur RPL, serta lulusan baru yang menempuh jalur reguler. Program ini dirancang adaptif terhadap kebutuhan industri, sekaligus memastikan standar kompetensi keinsinyuran yang profesional dan beretika,” ujarnya.
Menurutnya, keunggulan PSPPI ITI terletak pada pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan aspek akademik dengan praktik keinsinyuran berbasis pengalaman lapangan. Proses pendidikan didukung oleh dosen, pembimbing, dan asesor yang merupakan praktisi berpengalaman di bidangnya.
Selain itu, ITI juga menghadirkan Klinik Insinyur sebagai ruang penguatan kompetensi dan diskusi praktik profesional, serta memfasilitasi lulusan dalam proses pengurusan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) melalui Persatuan Insinyur Indonesia, sekaligus mendorong pengembangan karier hingga jenjang insinyur profesional dan pengakuan internasional.
Rektor menegaskan bahwa insinyur masa depan tidak hanya dituntut memiliki keunggulan teknis, tetapi juga berwawasan global, berintegritas, serta mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Tema ‘Muda Berteknologi, Nusantara Berdampak’ menjadi refleksi bahwa insinyur Indonesia harus hadir sebagai solusi atas berbagai tantangan pembangunan, sekaligus menjadi penggerak kemajuan bangsa,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Teguh Haryono menegaskan bahwa Program Profesi Insinyur merupakan amanat strategis dari Undang-Undang Keinsinyuran yang pelaksanaannya harus dilakukan secara sinergis antara perguruan tinggi dan organisasi profesi.
Ia juga menekankan bahwa hubungan antara ITI dan PII merupakan bagian penting dalam ekosistem pengembangan profesi keinsinyuran nasional.
“Perguruan tinggi dan organisasi profesi harus berjalan beriringan dalam menghasilkan insinyur yang kompeten, beretika, dan dapat dipercaya oleh masyarakat,” ungkapnya.
Ketua Umum Pengurus Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI), Dr. Ir. Heru Dewanto, M.Sc(Eng)., IPU., ACPE., APEC Eng., menilai bahwa peran insinyur Indonesia sangat strategis dalam konteks pembangunan nasional yang kompleks dan berkarakter kepulauan.
“Indonesia terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau. Insinyur memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan konektivitas melalui pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, dan bandar udara,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwasanya, kontribusi insinyur juga mencakup pembangunan sistem komunikasi nasional, mulai dari jaringan telekomunikasi, satelit, hingga sistem energi dan kelistrikan yang menjadi tulang punggung pembangunan.
Dari perspektif dunia usaha, Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, menekankan pentingnya kesinambungan pembelajaran sepanjang hayat dalam meningkatkan daya saing tenaga profesional.
Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi kunci dalam memastikan lulusan teknik memiliki relevansi tinggi terhadap kebutuhan pasar.
“Kolaborasi yang kuat antara dunia pendidikan dan dunia usaha akan memastikan lulusan tidak hanya kompeten, tetapi juga siap berkontribusi secara langsung dalam pengembangan industri nasional,” ungkapnya.
Dengan dikukuhkannya 368 insinyur baru pada tahun ini, ITI kembali memperkuat posisinya sebagai institusi strategis dalam menyiapkan tenaga profesional teknik yang adaptif, kompeten, dan berdaya saing global.
Sebagai bagian dari komitmen dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang berkualitas, Institut Teknologi Indonesia membuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk bergabung dalam berbagai program pendidikan, baik program sarjana maupun Program Profesi Insinyur (PSPPI). Informasi lengkap mengenai pendaftaran dan program studi dapat diakses melalui laman resmi penerimaan mahasiswa baru ITI di https://pmb.iti.ac.id.
Melalui berbagai program unggulan yang terintegrasi dengan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, serta ekosistem riset nasional, ITI terus menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan, adaptif, dan berdampak bagi masa depan Indonesia.
(Sety/GW/Red)


