Empati Setipis Tisu Saat Kesulitan Menyingkap Kepalsuan di Antara Rekan Kerja
![]() |
| Empati Setipis Tisu Saat Kesulitan Menyingkap Kepalsuan di Antara Rekan Kerja. |
Penulis : Iswanto
LAMONGAN - gudang-warta.com - Di ruang kerja yang setiap hari terlihat akrab dan saling menyapa, seringkali tersembunyi satu realita yang menyakitkan: saat senyum dan tawa hilang digantikan kesulitan, barulah terlihat seberapa tebal ikatan yang selama ini terjalin. Banyak yang mengaku teman, namun ketika beban kehidupan menekan, sebagian besar justru memilih melangkah pergi — sibuk dengan kehidupannya sendiri, seolah tak melihat rekan yang sedang berjuang.
Ada satu kebenaran yang lebih menyakitkan: terkadang, saat merekalah yang sedang kesulitan, kita hadir untuk memberi semangat dan uluran tangan. Namun giliran kita yang jatuh, justru ada di antara mereka yang merasa lega, seolah beban mereka terasa lebih ringan melihat orang lain juga mengalami hal yang sama.
Mereka menyampaikan belasungkawa dengan nada yang terdengar tulus, mengangguk paham, dan berkata "semangat ya" — namun di balik tatapan itu, terselip senyum yang berusaha disembunyikan. Seolah kesusahan yang kita alami justru menjadi kelegaan tersendiri bagi mereka. Empati yang ditampakkan hanyalah topeng, sementara di dalam hati, ada kepuasan yang tak bisa mereka sembunyikan sepenuhnya.
Bahkan senyum yang mereka berikan di hadapan kita, tak jarang menyimpan kepalsuan — di depan terlihat ramah, di belakang justru merasa bahagia melihat kita dalam kesulitan.
Istilahnya, empati teman kerja seringkali ternyata setipis tisu. Banyak yang memiliki makanan lebih dari cukup, namun tak tergerak hatinya saat mendengar rekan nyaris kelaparan. Mereka sibuk mencari kehidupan sendiri, lupa bahwa hari ini kita yang susah, esok belum tentu mereka yang selalu di atas.
Bukan berarti kita menuntut orang lain harus menyelesaikan masalah kita. Namun sekadar perhatian, pertanyaan "bagaimana kabarmu?", atau uluran tangan kecil di saat sulit — itulah yang sering kali justru paling sulit ditemukan. Pengalaman ini mengajarkan kita untuk lebih bijak memilih siapa yang benar-benar layak dipercaya, dan lebih menghargai mereka yang tetap tulus saat dunia sedang tak berpihak kepada kita.
Jadilah orang yang berbeda — bukan yang tersenyum kepalsuan saat orang lain jatuh, tetapi yang berani mengulurkan tangan saat sesama sedang terpuruk. Karena kebahagiaan sejati bukan dirasakan saat melihat orang lain susah, melainkan saat kita mampu hadir dan meringankan beban sesama.
(Iswanto/GW/Red)

