Iswanto Tekankan Dunia Pendidikan Tidak Boleh Ada Kekerasan, Pendidik yang Melanggar Bisa Dijerat Hukum Pidana
![]() |
| Iswanto Tekankan Dunia Pendidikan Tidak Boleh Ada Kekerasan, Pendidik yang Melanggar Bisa Dijerat Hukum Pidana. (Foto: ilustrasi) |
LAMONGAN - gudang-warta.com - Iswanto, perwakilan awak media sekaligus pengamat sosial dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Kabupaten Lamongan, menegaskan kembali pentingnya menjaga lingkungan pendidikan tetap bebas dari segala bentuk kekerasan.
Menurutnya, sekolah adalah tempat mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan tempat di mana anak justru harus menanggung rasa sakit dan ketakutan, apalagi yang melakukannya adalah orang yang seharusnya menjadi teladan, yaitu pendidik itu sendiri.
"Di dunia pendidikan, segala bentuk kekerasan—baik fisik maupun psikis—adalah hal yang sama sekali tidak boleh dibenarkan. Sekecil apa pun tindakannya, jika menyakiti anak, maka itu bukan pendidikan, melainkan pelanggaran," tegas Iswanto.
Iswanto mengingatkan bahwa setiap anak memiliki hak-hak dasar yang dilindungi undang-undang. Kekerasan yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didik bukan sekadar pelanggaran etika profesi, melainkan pelanggaran serius terhadap hak asasi anak sekaligus tindak pidana.
Dasar Hukum yang Menegaskan Hal Tersebut:
• Pasal 76C UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak: Setiap orang dilarang melakukan kekerasan terhadap anak.
• Pasal 80 Ayat (1) & (2) UU No. 35 Tahun 2014: Pelanggaran dipidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan. Jika dilakukan oleh pendidik, pidana diperberat sepertiga.
• Pasal 39 Ayat (2) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas: Pendidik dilarang melakukan tindakan kekerasan maupun pelecehan terhadap siswa.
• Pasal 40 UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru: Guru wajib melindungi peserta didik dari perlakuan yang merugikan.
"Pendidik memegang amanah besar membimbing generasi bangsa. Jika pendidik sendiri melanggar hukum dengan melakukan kekerasan, maka ia telah merusak kepercayaan sekaligus mencederai masa depan anak tersebut. Anak yang terluka karena gurunya akan sulit tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berani bermimpi," ungkap Iswanto.
Lebih lanjut ia berharap kesadaran ini tidak hanya dipahami oleh para pendidik, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat, orang tua, dan pengelola sekolah. Semoga ke depan, setiap anak yang melangkahkan kaki ke sekolah hanya membawa harapan dan semangat belajar, bukan luka yang sulit diobati.
"Anak-anak adalah investasi masa depan. Perlindungan mereka adalah tanggung jawab kita bersama. Tidak ada satu alasan pun yang dapat membenarkan kekerasan atas nama pendidikan," pungkasnya.
(Iswanto/GW/Red)

