GARDA SATU JATIM Kecam Keras Pernyataan Ketua BEM UGM Soal MBG: “Ini Bukan Kritik, Ini Tuduhan”
![]() |
| Gufrannudin, Sekretaris GARDA SATU JATIM. |
SURABAYA – gudang-warta.com – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) GARDASATU Jawa Timur melontarkan kecaman keras terhadap pernyataan Ketua BEM UGM, Tyo Ardianto, yang menyebut program MBG sebagai “Maling Berkedok Gizi”.
Pernyataan tersebut bahkan dituliskan dalam sebuah Kaos yang dikenakan saat aksi, sehingga menuai reaksi dari berbagai pihak.
Sekretaris GARDA SATU JATIM, Gufrannudin, menilai pernyataan tersebut telah melampaui batas kritik dan masuk dalam ranah tuduhan yang tidak berdasar.
“Ini bukan kritik, ini tuduhan. Bahasa seperti itu sangat tidak pantas dan mencederai semangat demokrasi yang sehat. Kami dari GARDA SATU juga tersinggung,” tegas Gufrannudin dalam keterangan persnya, Senin (16/2/2026).
Menurut Gufron (Sapaan akrab) menyampaikan kritik adalah hak setiap warga negara, termasuk mahasiswa. Namun, kritik harus disampaikan secara konstruktif dan berbasis data, bukan dengan narasi provokatif yang berpotensi memecah belah.
Ia juga menegaskan, bahwa tidak semestinya seseorang merasa memiliki legitimasi lebih hanya karena membawa nama kampus besar seperti Universitas Gadjah Mada.
“Jangan karena saudara Tyo ini dari BEM UGM lalu merasa bisa seenaknya berbicara dan melabeli program Negara sebagai maling. Mayoritas masyarakat justru mendukung program ini karena dirasakan manfaatnya secara langsung,” ujarnya.
Dinilai Bantu Rakyat dan UMKM
GARDA SATU JATIM menilai program MBG telah memberikan dampak nyata di berbagai daerah, khususnya dalam membantu masyarakat kecil, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan UMKM lokal.
Gufron bahkan menantang pihak yang melontarkan tudingan tersebut untuk turun langsung ke masyarakat agar melihat kondisi riil di lapangan.
“Turunlah ke rakyat. Lihat bagaimana program ini membantu masyarakat bawah. Jangan hanya bicara dari ruang diskusi. Kalau perlu datang ke kami, ke Jawa Timur, khususnya Madura. Supaya tidak ada pola pikir yang tercemar oleh asumsi tanpa fakta,” katanya.
Soroti Isu Besar yang Dianggap Terabaikan
Dalam pernyataannya, Gufron juga mempertanyakan sikap sebagian aktivis Mahasiswa yang dinilainya kurang lantang terhadap isu-isu besar seperti dugaan korupsi APBN, mafia migas, mafia hukum, hingga pemborosan anggaran kementerian.
“Saat APBN dicuri, saat banyak maling ditangkap, saat mafia migas dan mafia hukum diproses, saat kekayaan alam Indonesia dijarah, dana ratusan triliun dihamburkan tanpa kejelasan, ke mana kalian? Kenapa diam saja?” tegasnya.
Ia menilai tudingan “Maling Berkedok Gizi” mencerminkan cara berpikir yang tidak proporsional dan tidak mencerminkan semangat intelektual yang seharusnya dijunjung tinggi oleh mahasiswa.
Seruan untuk Kritik yang Bermartabat
GARDA SATU JATIM menegaskan tetap terbuka terhadap kritik terhadap kebijakan publik, selama disampaikan dengan data, argumentasi yang kuat, dan bahasa yang beretika.
“Demokrasi bukan ruang untuk cacian dan stigmatisasi. Jangan berpikir bisa seenaknya mencaci maki tanpa dasar. Mari kita bangun tradisi kritik yang bermartabat dan bertanggung jawab,” pungkas Gufron.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari pihak BEM UGM terkait respons atas kecaman tersebut.
(Hnf/GW/Red)

