Tokoh dan Masyarakat Sapeken Madura Kecam Pernyataan Ketua BEM UGM Tyo Ardianto
![]() |
| (Foto: Ilustrasi/GW) |
SAPEKEN, SUMENEP – gudang-warta.com – Pernyataan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tyo Ardianto, yang menyebut program MBG sebagai “Maling Berkedok Gizi” menuai reaksi keras dari tokoh dan masyarakat Kepulauan Sapeken, Madura, Jawa Timur.
Tokoh pemuda Sapeken, Makruf, menyatakan ketersinggungan masyarakat atas pernyataan tersebut. Ia menilai tudingan itu bukan sekadar kritik kebijakan, melainkan telah menyentuh harga diri masyarakat penerima manfaat program.
“Kami masyarakat kepulauan merasakan manfaat luar biasa dari adanya MBG. Kalau ada yang bilang MBG itu kepanjangan dari maling berkedok gizi, kami tersinggung,” ujar Makruf saat ditemui di Sapeken, Ahad (16/2/2026).
Tyo Ardianto sendiri dikenal sebagai Ketua BEM di Universitas Gadjah Mada, salah satu kampus negeri terkemuka di Indonesia. Pernyataannya yang beredar luas di media sosial memantik polemik, terutama di daerah-daerah yang mengaku merasakan dampak langsung program tersebut.
“Ini Penghinaan bagi Masyarakat”
Makruf menegaskan, program MBG dinilai membantu anak-anak di wilayah kepulauan mendapatkan asupan makanan yang lebih baik. Menurut dia, menyebut program tersebut sebagai program “maling” atau bahkan menyebut presiden sebagai “orang bodoh” karena memberi makan anak-anak, merupakan bentuk penghinaan.
“Kalau ada yang bilang Presiden orang bodoh karena membantu anak-anak dikasih makan, ini penghinaan. Yang dibantu itu anak-anak kami. Jangan balik menuduh kami yang bodoh,” katanya.
Ia menambahkan, pernyataan seperti itu berpotensi memecah belah masyarakat dan menciptakan kegaduhan yang tidak produktif.
Rantai Ekonomi yang Bergerak
Menurut Makruf, dampak MBG di wilayah kepulauan tidak hanya dirasakan oleh anak-anak sebagai penerima manfaat langsung. Program tersebut, kata dia, ikut menggerakkan roda ekonomi lokal.
Peternak telur memperoleh pasar tetap, peternak sapi perah mendapat permintaan susu, petani beras merasakan peningkatan serapan hasil panen.
Pelaku UMKM—mulai dari pembuat roti, pengolah tempe dan tahu, hingga penyuplai sayur-mayur—ikut menikmati perputaran ekonomi yang lebih stabil.
“Banyak orang bekerja karena MBG. Semua hidup. Kok ini malah dibilang program maling? Program orang bodoh?” ujar Makruf.
Ia mempertanyakan dasar tudingan tersebut dan meminta agar kritik disampaikan dengan data dan kajian yang jelas.
Tantangan Terbuka ke Sapeken
Makruf bahkan menantang Tyo Ardianto untuk datang langsung ke Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep, guna melihat kondisi riil di lapangan.
“Saya menantang saudara Tyo datang ke bawah, ke Pulau Sapeken khususnya. Lihat sendiri dampaknya di pulau kami. Jangan hanya bicara dari jauh,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar perdebatan kebijakan publik tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab intelektual.
Kritik, menurut dia, sah dalam demokrasi, tetapi tidak semestinya menjurus pada penghinaan atau pelabelan yang berpotensi merusak persatuan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Tyo Ardianto atas kecaman masyarakat Sapeken tersebut.
(Hnf/GW/Red)

